PKL SMAN8 DENPASAR !!!!!!!!
Pertama-tama kita diajak ke PURA SILAYUKTI yg terletak di PadangBai .
PURA SILAYUKTI
Mpu Kuturan tokoh spiritual Hindu di abad ke-11 Masehi
adalah salah seorang tokoh yang berbuat dengan landasan niskama karma. Artinya,
berbuat tanpa pamerih akan hasilnya. Hal ini dilakukan karena Mpu Kuturan sudah
sangat yakin akan ajaran Hukum Karma. Setiap perbuatan baik sudah dapat
dipastikan akan membuahkan hasil yang baik. Karena itu, Mpu Kuturan hanya
berkonsentrasi pada berbuat baik dan benar untuk kepentingan umat manusia dalam
artian yang seluas-luasnya.
Berbuat baik dan benar itu dilakukan karena keyakinan Mpu Kuturan sudah
demikian disinari oleh api ilmu pengetahuan yang telah beliau capai. Mpu
Kuturan tidak kawin karena beliau menempuh hidup Sukla Brahmacari. Jadinya
semua umat manusia itu dianggap sebagai saudaranya. Inilah sesungguhnya
perilaku seorang yang tepat disebut Pandita.
Pura Silayukti adalah Pura Pasraman Mpu Kuturan. Mpu Kuturan-lah salah satu
tokoh spiritual Hindu di masa lampau yang sangat tepat diberikan gelar Pandita
ahli yang juga disebut Brahmanasista dalam pustaka Manawa Dharmasastra. Mpu
Kuturan yang nama prinadi beliau Mpu Rajakerta. Beliaulah yang pernah menjabat
Senapati Kuturan di Bali pada abad ke-11 Masehi.
Mpu Rajakerta pada awalnya sebagai kesatria karena menjabat Senapati Kuturan.
Setelah selesai menjabat Senapati Kuturan barulah beliau sebagai Bhagawanta
Kerajaan Bali dengan gelar sebagai Mpu. Selanjutnya lebih populer dengan
sebutan atau abhiseka nama Mpu Kuturan dengan asrama di Pura Silayukti.
Di Pasraman Pura Silayukti ada empat kompleks tempat pemujaan. Di bagian utara
adalah pura sebagai tempat pemujaan Mpu Kuturan. Beliau dipuja di Meru Tumpang
Tiga menghadap ke selatan. Meru Tumpang Tiga inilah sebagai pelinggih utama di
kompleks Pura Pasraman Mpu Kuturan. Di barat agak ke utara dari Pura Pasraman
Mpu Kuturan ini terdapat Pura Taman Beji sebagai tempat memohon tirtha sebagai
sarana utama pada saat upacara di Pura Pasraman Silayukti.
Di kompleks bagian selatan dari Pura Pasraman Mpu Kuturan terdapat kompleks
pura sebagai tempat pemujaan Mpu Bharadah. Di pura ini Mpu Bharadah dipuja di
Meru Tumpang Tiga juga, cuma menghadapi ke barat. Sedangkan tempat meditasi Mpu
Kuturan sebagai kompleks keempat terletak di bagian timur bukit Silayukti agak
turun ke bawah menghadap ke timur di mana akan kelihatan laut yang membiru.
Kalau saat bulan purnama dengan berpadu pada pemandangan laut kita melakukan
meditasi di tempat ini sungguh sangat menggetarkan spiritual kita. Karena
keadaan alam ciptaan Tuhan itu demikian mempesona bagi mereka yang memiliki
minat spiritual.
Mpu Kuturan adalah salah seorang dari lima orang suci yang berjasa menata
kehidupan keagamaan Hindu di Bali. Lima orang suci yang bersaudara itu disebut
Panca Pandita atau Panca Tirtha. Beliau itu adalah Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, Mpu
Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah. Yang paling banyak berjasa menata
kehidupan sosial religius Hindu di Bali adalah Mpu Kuturan. Hal ini dinyatakan
dalam berbagai pustaka kuna yang ditulis dalam daun lontar.
Dalam Lontar Usana Dewa dinyatakan Mpu Kuturan-lah yang mengajarkan cara-cara
mendirikan tempat pemujaan atau kahyangan seperti Kahyangan Jagat di Bali.
Dalam Lontar Kusuma Dewa juga dinyatakan Mpu Kuturan yang mengajarkan tentang
pendirian Pura Sad Kahyangan di Bali dengan landasan konsepsi Sad Winayaka.
Dalam lontar yang berjudul ''Mpu Kuturan'' juga dinyatakan Mpu Kuturan yang
mengajarkan tentang pendirian Kahyangan Tiga di setiap desa pakraman di Bali.
Penataan Pura Besakih lebih lanjut juga dilakukan oleh Mpu Kuturan. Karena jasa
beliau itu Mpu Kuturan distanakan di Meru Tumpang Sembilan di Pura Peninjoan.
Pura Peninjoan ini termasuk kompleks Pura Besakih.
Menurut Lontar Babad Bendesa Mas dan Lontar Kusuma Dewa, antara Pura Kentel
Gumi, Pura Dasar di Gelgel dan Pura Goa Lawah yang mempunyai hubungan historis
juga sama-sama didirikan oleh Mpu Kuturan. Karena jasa-jasa beliau itu di
berapa Pura Kahyangan Jagat, Mpu Kuturan dimuliakan dalam Pelinggih Manjangan
Saluwang. Demikian hampir di setiap pemujaan keluarga Hindu di Bali yang
disebut Sanggah Gede atau Merajan Agung, Mpu Kuturan juga dimuliakan di
Pelinggih Manjangan Saluwang.
Jadinya Mpu Kuturan sangat berjasa dalam menata kehidupan manusia dan alam Bali
berdasarkan ajaran Hindu. Hal inilah menyebabkan Bali sampai mendapat julukan
Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura. Kalau kita perhatikan Mpu Kuturan bukan
milik suatu wangsa atau warga tertentu.
Yang patut kita renungkan lebih dalam tentang pendirian Kahyangan Tiga di
setiap desa pakraman di Bali sebagai pemujaan Tuhan sebagai Dewa Tri Murti.
Pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti bukan untuk menyatukan adanya sekte-sekte
Hindu yang bermusuhan. Para guru besar yang ahli ilmu purbakala di Bali yang
pernah saya tanyakan menyatakan bahwa tidak ada catatan sejarah bahwa
sekte-sekte Hindu di Bali pernah bermusuhan, apalagi berperang.
Tujuan Mpu Kuturan mengajarkan pemujaan Tuhan sebagai Dewa Tri Murti adalah
untuk menguatkan umat dalam melakukan upaya Utpati, Stithi dan Pralina. Utpati
artinya giat menciptakan sesuatu yang sepatutnya diciptakan. Stithi artinya
dengan sungguh-sungguh memelihara dan melindungi sesuatu yang seyogianya
dipelihara dan dilindungi.
Pralina maksudnya meniadakan sesuatu yang sepatutnya dihilangkan. Pralina bukan
berarti merusak. Misalnya menghilangkan kebiasaan mabuk, apalagi saat merayakan
hari raya keagamaan. Misalnya menghilangkan kebodohan dan kemiskinan dengan
cara-cara yang baik, wajar dan benar. Itu juga tergolong kegiatan hidup yang
termasuk pralima. Melakukan upaya Upati, Stithi dan Pralina tidaklah segampang
teorinya. Melakukan hal itu perlu ada tuntutan Tuhan melalui pemujaan Dewa Tri
Murti di Kahyangan Tiga.
Setelah dari PURA SILAYUKTI kita langsung ke TAMAN SUKASADA/TAMAN UJUNG KARANGASEM.
 |
| ME AND FRIENDS at TAMAN UJUNG |
TAMAN
SUKASADA/TAMAN UJUNG
Taman Sukasada sekarang lebih terkenal dengan nama Taman Ujung
Karangasem terletak di Dusun Ujung, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem,
Kabupaten Karangasem. Taman ini berjarak sekitar 5 km arah tenggara dari
Kota Amlapura. Taman yang dibangun oleh Raja Karangasem: I Gusti Bagus
Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem dengan
konsep sempurna ini merupakan kebanggaan warga Karangasem karena
awalnya memiliki luas hampir 400 hektar, tetapi sekarang hanya sekitar
10 hektar karena tanah tersebut sebagian besar sudah dibagikan kepada
masyarakat pada masa landreform. Kepemilikan Taman Ujung ini sekarang
sudah diwariskan kepada ahli waris keluarga Puri Karangasem sehingga
statusnya menjadi taman milik pribadi tetapi pengunjung umum
diperkenankan mengunjungi taman yang tampak megah ini.
Taman Ujung yang merupakan salah satu
masterpiece
Bali dibangun pada tahun 1909 oleh prakarsa Raja Karangasem Anak Agung
Anglurah Ketut Karangasem dengan melibatkan arsitek Belanda yang bernama
van Den Hentz dan seorang arsitektur Cina bernama Loto Ang. Pembangunan
Taman Ujung juga banyak melibatkan arsitektur (
undagi)
tradisional serta mendapat petunjuk dari Mr. Wardodjojo seorang teknisi
dari Dinas Pekerjaan Umum. Taman Ujung sebenarnya merupakan pengembangan
Kolam Dirah yang telah dibangun lebih awal pada tahun 1901.
Pembangunan Taman Ujung selesai pada tahun 1921, namun pekerjaan
pembangunan masih terus dilanjutkan. Tepatnya pada tahun 1937, Taman
Sukasada (Taman Ujung) Karangasem diresmikan dengan sebuah
‘mahligya’ yang
ditandai dengan sebuah prasasti batu marmer yang ditulis dengan huruf
latin dan Bali dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan
Bali. Prasasti tersebut ditempelkan pada salah satu dinding di Bale
Warak.
Kedua prasasti tersebut menunjukkan bahwa pembangunan selesai pada
tanggal 6 Agustus 1937. Hal yang menarik dari kompleks bangunan tersebut
yaitu perpaduan tiga unsur budaya yaitu Bali, Belanda, dan Cina
sehingga melahirkan kekhasan arsitekturnya. Arsitektur Bali terlihat
jelas pada motif dekorasinya berupa cerita-cerita wayang serta motif
patra lainnya, arsitektur Belanda terlihat pada bentuk bangunannya yang
memiliki gaya indis, dan arsitektur Cina terlihat pada pembuatan gapura
masuk, kolam segidelapan, dan Bale Bundar (gasebo).
Dan Tempat kunjungan kami yang terakhir DESA TENGANAN .
DESA
TENGANAN
Desa Tengganan terletak di antara perbukitan, termasuk kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem kurang lebih 17 km dari kota Amlapura atau 65 km dari Denpasar
terdiri atas 3 banjar yaitu banjar Kauh, banjar Kangin dan banjar
Pande. Wilayah desa terdiri dari tiga bagian utama al; komplek
pemukiman, perkebunan dan komplek persawahan merupakan salah satu dari
sejumlah desa kuno di pulau Bali dimana pola kehidupan masyarakatnya
merupakan satu contoh kebudayaan desa-desa Bali Aga (pra Hindu) yang
berbeda dengan desa-desa lain di Bali dataran.
Keunikan yang dimiliki desa Tenganan sehingga menjadi salah satu obyek wisata yang harus dikunjungi al:
- Pola perkampungan yang seragam yang bersifat linear.
- Struktur masyarakat yang bilateral yang berorientasi pada kolektif dan senioritas.
- Sistem ritual khusus dlm frekuensi yang tinggi dengan menyungguhkan perpaduan agama, seni dan solidaritas social.
- Tradisi mekare-kare setiap bulan Juni yaitu tradisi perang
pandan dalam kontek ritual, nilai religius, semangat perjuangan dan uji
ketangguhan fisik yang diiringi oleh gambelan tradisional selonding.
- Seni kerajinan tenun ikat kain geringsing dengan design dan
tata warna khas, serta memiliki bentuk, fungsi dan makna estetis yang
tinggi. Kain ini dipakai pada waktu upacara dimana dipercaya dengan
memakai kain ini akan terhindar dari penyakit. Kata Geringsing sendiri
berasal dari bahasa Bali yaitu “gering” yang berarti penyakit keras dan
“sing” berarti tidak.
Masyarakat dan kebudayaan Tenganan merupakan tempat yang kaya bagi
kajian ilmu antropologi, arkeologi, hukum adat sejarah dan sastra degan
penduduk kurang lebih 550 jiwa. Obyek wisata desa Tenganan terletak
sangat berdekatan dengan kawasan wisata Candi Dasa yaitu berjarak 2 km.